Kamis, Oktober 16, 2008

Pertumbuhan Ekonomi 2009 Disepakati 6,0 Persen


















Jakarta, (ANTARA News) - Setelah melalui beberapa kali pembahasan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2009 akhirnya disepakati sebesar 6,0 persen dengan mempertimbangkan perlambatan laju pertumbuhan perekonomian dunia, serta mempertahankan prioritas-prioritas pembangunan yang telah direncanakan dalam RKP (Rencana Kerja Pemerintah) 2009.

Dalam rapat kerja Panitia Anggaran DPR dan pemerintah yang diwakili Menkeu Sri Mulyani Indrawati dan Meneg PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta, serta Gubernur BI Boediono di Jakarta, Rabu malam, juga disepakati beberapa asumsi lainnya, yaitu inflasi 2009 6,2 persen, nilai tukar Rp9.400 per dolar AS, tingkat bunga SBI 3 bulan 7,5 persen dan harga minyak mentah Indonesia (ICP) 80 dolar AS per barel.

"Maka PDB (Produk Domestik Bruto-red) secara nominal ditargetkan sebesar Rp5.327,537 triliun," kata Ketua Panja Asumsi Dasar, Pendapatan, Defisit, dan Pembiayaan, Suharso Monoarfa.

Dengan perubahan asumsi dasar tersebut, katanya, maka pendapatan negara dan hibah pada 2009 disepakati sebesar Rp982,725 triliun, dengan penerimaan perpajakan sebesar Rp725,843 triliun dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sebesar Rp55,946 triliun.

Suharso mengatakan, penurunan asumsi ICP dari usulan pemerintah, 85 dolar AS per barel telah menyebabkan turunnya penerimaan negara dari pajak penghasilan (PPh) migas dan PNBP migas hingga masing-masing sebesar Rp4 triliun dan Rp16,46 triliun.

Sedangkan belanja negara disepakati sebesar Rp1.035,457 triliun, yang terdiri atas belanja pemerintah pusat Rp731,660 triliun, pembayaran bunga utang Rp101,657 triliun, subsidi energi Rp103,568 triliun, risiko fiskal Rp15,765 triliun, tambahan anggaran pendidikan Rp30,202 triliun, dan transfer ke daerah sebesar Rp300,677 triliun.

"Panja sepakat untuk melakukan penghematan belanja negara sebesar Rp7,899 triliun untuk mengurangi target pembiayaan anggaran 2009," kata Suharso.

Dia menjelaskan, pembayaran bunga utang, terdiri atas pembayaran bunga utang dalam negeri Rp69,34 triliun, dan bunga utang luar negeri Rp32,317 triliun.

"Berdasarkan perhitungan tersebut, maka disepakati besaran defisit tahun 2009 adalah Rp53,732 triliun atau 1,0 persen dari PDB," kata Suharso.

Sedangkan untuk membiayai defisit tersebut, panja menyepakati pembiayaan dari dalam negeri sebesar Rp62,180 triliun, dan pembiayaan luar negeri sebesar negatif Rp9,448 triliun.

"Setelah mempertimbangkan kondisi krisis keuangan global yang berimbas pada perekonomian Indonesia, panja menyepakati untuk mengurangi target penerbitan surat berharga negara (SBN) neto menjadi sebesar Rp54,719 triliun," katanya.

Sedangkan jika dalam pelaksanaannya, pasar keuangan tidak dapat menyerap rencana SBN yang akan diterbitkan pemerintah dan/atau biaya penerbitan menjadi mahal, tambahnya, maka pemeritnah dapat menggunakan alternatif pembiayaan yang berasal dari pinjaman tunai bilateral dan multilateral dengan mengupayakan biaya yang paling efisien.

"Panja juga meminta BI wajib membeli SBN jangka pendek yang diterbitkan pemerintah pusat," katanya.

Atas kesepakatan tersebut, Menkeu Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pihaknya mengakui bahwa pembahasan asumsi ini sangat sulit mengingat perubahan situasi di dunia yang sagat drastis, dramatis serta fundamental.

"Kami beri contoh harga minyak saat membahas kerangka ekonomi makro pada Maret lalu 140 dolar AS. Waktu kami tulis nota keuangan harganya 130 dolar AS. Waktu mulai bahas dengan Panggar, sudah turun jadi 110 dolar AS. Sekarang saat baru menyelesaikan panja A untuk postur APBN sudah turun 80 dolar AS. Jadi sembari membahas dengan Panggar, harga minyak yang selalu kita asumsikan dan prediksikan berubah sangat dramatis seperti `roller coaster`," kata Menkeu.

Namun demikian, Menkeu menganggap kompromi politik yang dicapai dalam bentuk asumsi-asumsi ekonomi makro tersebut cukup realistis untuk digunakan dalam penghitungan APBN 2009.

Bagi pemerintah, kata Sri Mulyani, kompromi politik yang tercermin pada target pertumbuhan ekonomi 6,0 persen menjadi sinyal bahwa pemeritnah bersama DPR tidak ingin laju pertumbuhan ekonomi cepat di atas 6 persen sejak 2007 tetap terjaga, meskipun dalam situasi seperti ini.

"Sinyal yang harus diberikan bersama oleh pemerintah dan DPR dalam desain APBN 2009 kepada konstituen politik, konstituen pasar serta masyarakat domestik dan internasional adalah bahwa Indonesia masih optimis secara hati-hati dan tetap wapada dalam menghadapi situasi krisis yang terjadi," katanya.

Terkait rencana pemotongan pagu indikatif belanja kementerian lembaga (KL), Sri Mulyani mengatakan pihaknya masih akan melakukan kajian dengan melihat seluruh komponen belanja, terutama yang diangap bisa dpotong karena tidak akan mengganggu program utama KL dan bisa dilihat sebagai penghematan yang bijaksana, seperti perjalanan dinas, belanja barang, seminar dan rapat kerja.

"Dan bahkan di Departemen Keuangan dan kemungkinan di kementerian lainnya, penghematan atas pengeluaran listrik. Pembayaran listrik kami sejak Agustus turun 30-40 persen," katanya

Dia juga meminta agar anggaran untuk bantuan langsung tunai (BLT) 2009 yang akan berlangsung selama 3 bulan dan anggaran Program Nasional Pemberdayaan masyarakat (PNPM) dapat dipertahankan, meskipun ada fraksi yang menginginkan kedua anggaran tersebut direalokasi ke program lain yang bersifat padat karya

Sedangkan Gubernur BI, Boediono menyatakan pihaknya akan meningkatkan kerjasama dengan pemerintah dalam rangka mencapai seluruh asumsi dalam APBN tersebut.(*)

SUMBER : WWW.ANTARA.CO.ID

Tips Dan Trik Cara Belajar Yang Baik Untuk Ujian

Belajar merupakan hal yang wajib dilakukan oleh para pelajar dan mahasiswa. Belajar pada umumnya dilakukan di sekolah ketika jam pelajaran berlangsung dibimbing oleh Bapak atau Ibu Guru. Belajar yang baik juga dilakukan di rumah baik dengan maupun tanpa pr / pekerjaan rumah. Belajar yang dilakukan secara terburu-buru akibat dikejar-kejar waktu memiliki dampak yang tidak baik.

Berikut ini adalah tips dan triks yang dapat menjadi masukan berharga dalam mempersiapkan diri dalam menghadapi ulangan atau ujian :

1. Belajar Kelompok
Belajar kelompok dapat menjadi kegiatan belajar menjadi lebih menyenangkan karena ditemani oleh teman dan berada di rumah sendiri sehingga dapat lebih santai. Namun sebaiknya tetap didampingi oleh orang dewasa seperti kakak, paman, bibi atau orang tua agar belajar tidak berubah menjadi bermain. Belajar kelompok ada baiknya mengajak teman yang pandai dan rajin belajar agar yang tidak pandai jadi ketularan pintar. Dalam belajar kelompok kegiatannya adalah membahas pelajaran yang belum dipahami oleh semua atau sebagian kelompok belajar baik yang sudah dijelaskan guru maupun belum dijelaskan guru.

2. Rajin Membuat Catatan Intisari Pelajaran
Bagian-bagian penting dari pelajaran sebaiknya dibuat catatan di kertas atau buku kecil yang dapat dibawa kemana-mana sehingga dapat dibaca di mana pun kita berada. Namun catatan tersebut jangan dijadikan media mencontek karena dapat merugikan kita sendiri.

3. Membuat Perencanaan Yang Baik
Untuk mencapai suatu tujuan biasanya diiringi oleh rencana yang baik. Oleh karena itu ada baiknya kita membuat rencana belajar dan rencana pencapaian nilai untuk mengetahui apakah kegiatan belajar yang kita lakukan telah maksimal atau perlu ditingkatkan. Sesuaikan target pencapaian dengan kemampuan yang kita miliki. Jangan menargetkan yang yang nomor satu jika saat ini kita masih di luar 10 besar di kelas. Buat rencana belajar yang diprioritaskan pada mata pelajaran yang lemah. Buatlah jadwal belajar yang baik.

4. Disiplin Dalam Belajar
Apabila kita telah membuat jadwal belajar maka harus dijalankan dengan baik. Contohnya seperti belajar tepat waktu dan serius tidak sambil main-main dengan konsentrasi penuh. Jika waktu makan, mandi, ibadah, dan sebagainya telah tiba maka jangan ditunda-tunda lagi. Lanjutkan belajar setelah melakukan kegiatan tersebut jika waktu belajar belum usai. Bermain dengan teman atau game dapat merusak konsentrasi belajar. Sebaiknya kegiatan bermain juga dijadwalkan dengan waktu yang cukup panjang namun tidak melelahkan jika dilakukan sebelum waktu belajar. Jika bermain video game sebaiknya pilih game yang mendidik dan tidak menimbulkan rasa penasaran yang tinggi ataupun rasa kekesalan yang tinggi jika kalah.

5. Menjadi Aktif Bertanya dan Ditanya
Jika ada hal yang belum jelas, maka tanyakan kepada guru, teman atau orang tua. Jika kita bertanya biasanya kita akan ingat jawabannya. Jika bertanya, bertanyalah secukupnya dan jangan bersifat menguji orang yang kita tanya. Tawarkanlah pada teman untuk bertanya kepada kita hal-hal yang belum dia pahami. Semakin banyak ditanya maka kita dapat semakin ingat dengan jawaban dan apabila kita juga tidak tahu jawaban yang benar, maka kita dapat membahasnya bersama-sama dengan teman. Selain itu

6. Belajar Dengan Serius dan Tekun
Ketika belajar di kelas dengarkan dan catat apa yang guru jelaskan. Catat yang penting karena bisa saja hal tersebut tidak ada di buku dan nanti akan keluar saat ulangan atau ujian. Ketika waktu luang baca kembali catatan yang telah dibuat tadi dan hapalkan sambil dimengerti. Jika kita sudah merasa mantap dengan suatu pelajaran maka ujilah diri sendiri dengan soal-soal. Setelah soal dikerjakan periksa jawaban dengan kunci jawaban. Pelajari kembali soal-soal yang salah dijawab.

7. Hindari Belajar Berlebihan
Jika waktu ujian atau ulangan sudah dekat biasanya kita akan panik jika belum siap. Jalan pintas yang sering dilakukan oleh pelajar yang belum siap adalah dengan belajar hingga larut malam / begadang atau membuat contekan. Sebaiknya ketika akan ujian tetap tidur tepat waktu karena jika bergadang semalaman akan membawa dampak yang buruk bagi kesehatan, terutama bagi anak-anak.

8. Jujur Dalam Mengerjakan Ulangan Dan Ujian
Hindari mencontek ketika sedang mengerjakan soal ulangan atau ujian. Mencontek dapat membuat sifat kita curang dan pembohong. Kebohongan bagaimanapun juga tidak dapat ditutup-tutupi terus-menerus dan cenderung untuk melakukan kebohongan selanjutnya untuk menutupi kebohongan selanjutnya. Anggaplah dengan nyontek pasti akan ketahuan guru dan memiliki masa depan sebagai penjahat apabila kita melakukan kecurangan.

Semoga tips cara belajar yang benar ini dapat memberikan manfaat untuk kita semua, amin.

sumber : organisasi.org

Rabu, Oktober 15, 2008

10 Cara Meningkatkan Kehidupan Anda

Di awal tahun, di saat Anda tengah mulai merencanakan berbagai hal dalam meningkatkan kehidupan Anda di tahun ini, Steve Pilkington - seorang konsuler terapi di Amerika Serikat, memberikan beberapa tips yang bisa meningkatkan kehidupan Anda.

1. Refleksikan Penghargaan Tertinggi Bagi Diri Anda
Seimbangkan berbagai hal yang menjadi unggulan diri Anda dengan tujuan kehidupan yang telah direncanakan. Tujuan-tujuan ini harus mengekspresikan diri dan apa saja dari diri Anda yang sangat dicintai. Keinginan terdalam untuk mengisi hidup akan datang, saat nilai-nilai yang Anda punyai bisa seimbang dengan tujuan yang hendak diraih.

2. Ciptakanlah Lingkungan Yang Akan Mendukung
Berhentilah "melawan" arah angin. Saat mencoba melakukan perubahan dalam diri, ciptakanlah lingkungan yang memungkinkan Anda untuk melangkah ke depan, Lingkungan-lingkungan ini misalnya, lingkungan yang lebih intelektual, lebih religius, lebih memotivasi, lebih menginspirasi dan lainnya - segala sesuatu yang ada dalam hidup adalah lingkungan Anda. Pergunakanlah lingkungan tersebut secara bijaksana, atau cobalah untuk menciptakan lingkungan yang lebih baru lagi

3. Tetap Berhubungan Dengan Komunitas
Komunitas kita mempunyai potensi yang besar untuk meningkatkan dan menunjang kita (bukan saja sebuah komunitas dalam bentuk fisik semata). Berhubungan dengan komunitas memungkinkan kita menjadi salah satu bagian yang lebih besar dari diri kita sendiri

4. Kenali Dan Gunakanlah Tubuh
Berolah raga, makan dengan tepat dan mendapatkan cukup tidur, akan menjaga diri dan tubuh dengan baik - lagi pula, tubuh ini merupakan satu-satunya yang kita miliki secara harafiah. Cobalah untuk mencapai impian tubuh yang bisa digapai

5. Jangan Takut Menanggung Risiko
Saat berada diakhir perjalanan hidup, sangat diyakini kalau penyesalan terbesar seseorang adalah saat kita tidak berani menanggung risiko. Jika kita sudah begitu terikat dengan apa yang kita lakukan, hal yang sama akan datang setiap waktu sehingga tidak mungkin kita menghindari risiko di depan. Hadapi risiko itu dan jadikanlah sebagai pengalaman.

6. Hadapi Kegagalan Sebagai Hal Yang Baik
Kegagalan sebenarnya bukanlah benarbenar kegagalan, kecuali kalau ternyata kita juga gagal dalam mengambil hikmahnya. Segeralah berbenah diri, ini akan membantu Anda untuk menghadapi berbagai halangan untuk meraih kesuksesan. Analisa dan belajarlah dari berbagai hal yang telah Anda coba namun belum mencapai kesuksesan

7. Jalanilah Hidup Dengan Penuh Kekuatan
Apakah yang membuat Anda berbeda dengan orang lain? Apa yang menjadi keahlian Anda? Tidak banyak orang di dunia ini, bisa mendapatkan berbagai bakat dan kemampuan seperti yang Anda miliki. Simpanlah waktu untuk lebih memperkaya dan meningkatkan kekuatan ini, sehingga Anda bisa melakukan yang terbaik

8. Jangan Mati Sebelum Mencapai Harapan
Banyak orang punya banyak keinginan dalam hidupnya, tapi kita juga lebih banyak menyerah oleh rasa takut yang menyerang. Berbagilah harapan tentang sesuatu yang sangat Anda idamkan, dengan orang-orang sekitar Anda. Harapan Anda adalah musik Anda, jangan pernah meninggal sebelum Anda memilikinya

9. Atasi Ketakutan
Ketakutan selalu berada dalam diri kita kapan saja, sehingga membuat kita mundur melakukan sesuatu. Hadapi dan perangilah ketakutan ini dengan melakukan tindakan yang memang harus Anda lakukan. Mengatasi ketakutan yang ada dan pengalaman akan menumbuhkan impian yang lebih besar dari yang Anda duga sebelumnya

10. Hiduplah Untuk Masa Datang
Saat ini merupakan satu-satunya waktu yang kita miliki secara nyata. Hari kemarin sudah lenyap selamanya dan esok belum tentu datang untuk kita. Jangan pernah menyia-nyiakan hidup yang sangat berarti ini, dengan selalu melihat ke belakang atau terlalu berpikir ke depan. Hiduplah untuk saat ini dan gunakanlah untuk mendapatkan pengalaman yang sangat berarti dalam kehidupan Anda saat ini.

Sumber: Majalah Lisa

Kiat Mendorong Keterampilan Berpikir Anak Anda

Keberhasilan dalam hidup akan menyertai anak Anda, jika mereka dapat membangun keterampilan berpikir yang kokoh sejak usia dini. Berikut ini beberapa cara sederhana untuk menolong meningkatkan keterampilan berpikir anak di rumah.

1. Mainkan beberapa permainan bersama anak Anda. Permainan kata dan permainan yang mengandung unsur strategi menolong anak melihat masalah dengan cara yang berbeda.

2. Dorong anak-anak untuk menulis. Misalnya menulis buku harian atau surat kepada kerabat. Hasil sempurna dari membaca adalah menulis. "Orang yang mampu menulis dengan baik memiliki kemampuan berpikir yang unggul," kata Sava, seorang pakar dan pemikir.

3. Jawablah semua pertanyaan sederhananya. Misalnya, mengapa langit itu biru? Mengapa hujan datang dari atas? Anak-anak yang banyak bertanya adalah pemikir-pemikir kreatif.

4. Bantulah anak Anda melihat hubungan di sekitarnya. Misalnya bagaimana singa mirip dengan kucing. Dengan demikian anak dapat berpikir lentur, yakni dapat menemukan pemecahan lain ketika solusi pertamanya atas sebuah masalah gagal menjawab persoalan.

5. Menonton TV bersama. Berbicaralah tentang karakter, jalan cerita, moral cerita yang ditonton. Bahkan bisa juga Anda mengajar anak-anak tentang manajemen (Sekolah Manajemen) belanja dengan melihat berbagai iklan produk di TV.

6. Singkapkan dunia ini kepada anak Anda. Museum, taman bermain, tempat-tempat bersejarah, maupun kota-kota yang belum pernah dikunjungi dapat membangkitkan rasa ingin tahu anak dan memacu pikirannya.

7. Kembangkan kegiatan membaca, baik dibacakan atau membaca sendiri. Membaca menyingkapkan pengetahuan dan pengalaman kepada anak-anak. (Kalam Hidup) ___

___________________________________ Sumber: www.glorianet.org

10 Kunci Persahabatan Yang Baik

1) Pilih orang yang mempunyai minat yang sama seperti anda supaya anda mempunyai persamaan, tetapi jangan mengetepikan orang yang langsung tidak mempunyai persamaan dengan anda, bersikap terbuka baik untuk anda.

2) Ingatlah pada satu pedoman penting iaitu berlaku baik terhadap orang lain sebagaimana anda suka diperlakukan. Sekiranya anda menghormati orang lain,orang lain akan menghormati anda juga.

3) Sedarlah bahawa tiada siapa yang sempurna, setiap orang mempunyai sifat-sifat aneh dan kecacatan, dan menerima kecacatan antara satu sama lain adalah kunci persahabatan yang baik.

4) Hargai pendapat satu sama lain.

5) Sedarlah bahawa kawan yang rapat sekalipun tidak dapat bersama 24 jam.Bina minat-minat yang lain dan jangan cemburu apabila kawan anda mempunyai minat-minat yang lain juga.

6) Komunikasi sangat penting, kawan anda tidak boleh membaca fikiran anda.Sekiranya ada sesuatu yang menjejaskan persahabatan anda, beritahulah.

7) Jangan biarkan faktor luaran seperti tekanan (stress) menjejaskan persahabatan anda. Kawan yang baik akan membenarkan anda melepaskan perasaan kepada mereka, tetapi jangan hanya mempergunakan mereka untuk melepaskan perasaan ... dan sebagai balasan anda sepatutnya bersedia untuk mendengar luahan perasaan mereka pula.

8) Belajar daripada satu sama lain.

9) Jangan mengata di belakang kawan anda.

10) Pilih kata-kata anda dengan bijaksana kerana anda tidak boleh menariknya kembali.

Sumber: Harian Umum Kompas

Tujuh Gaya Belajar Efektif

Banyak gaya yang bisa dipilih untuk belajar (Bimbingan Belajar) secara efektif. Berikut adalah tujuh gaya belajar yang mungkin bisa Anda ikuti

- Bermain dengan kata.
Gaya ini bisa kita mulai dengan mengajak seorang teman yang senang bermain dengan bahasa (Sekolah Sastra/Bahasa), seperti bercerita dan membaca serta menulis. Gaya belajar ini sangat menyenangkan karena bisa membantu kita mengingat nama, tempat, tanggal, dan hal-hal lainya dengan cara mendengar kemudian menyebutkannya.

- Bermain dengan pertanyaan.
Bagi sebagian orang, belajar makin efektif dan bermanfaat bila itu dilakukan dengan cara bermian dengan pertanyaan. Misalnya, kita memancing keinginan tahuan dengan berbagai pertanyaan. Setiaop kali muncuil jawaban, kejar dengan pertanyaan, hingga didapatkan hasil yang paling akhirnya atau kesimpulan.

- Bermain dengan gambar (Kursus Menggambar).
Anda sementar orang yang lebih suka belajar dengan membuat gambar, merancang, melihat gambar, slide, video atau film. Orang yang memiliki kegemaran ini, biasa memiliki kepekaan tertentu dalam menangkap gambar atau warna, peka dalam membuat perubahan, merangkai dan membaca kartu. Jika Anda termasuk kelompok ini, tak salah bila Anda mencoba mengikutinya.

- Bermain dengan musik (Sekolah Musik).
Detak irama, nyanyian, dan mungkin memainkan salah satu instrumen musik, atau selalu mendengarkan musik. Ada banyak orang yang suka mengingat beragam informasi dengan cara menginat notasi atau melodi musik. Ini yang disebut sebagai ritme hidup. Mereka berusaha mendapatkan informasi terbaru mengenai beragam hal dengan cara mengingat musik atau notasinya yang kemudian bisa membuatnya mencari informasi yang berkaitan dengan itu. Misalnya mendegarkan musik jazz, lalu tergeliik bagaimanalagu itu dibuat, siapa yang membuat, dimana, dan pada saat seperti apa lagu itu muncul. Informasi yang mengiringi lagu itu, bisa saja tak sebatas cerita tentang musik, tapi juga manusia, teknologi, dan situasi sosial politik pada kurun waktu tertentu.

- Bermain dengan bergerak.
Gerak manusia, menyentuh sambil berbicara dan menggunakan tubuh untuk mengekspresikan gagasan adalah salah satu cara belajar yang menyenangkan. Mereka yang biasanya mudah memahami atau menyerap informasi dengan cara ini adalah kalangan penari, olahragawan. Jadi jika Anda termasuk kelompok yang aktif, tak salah mencoba belajar sambil tetap melakukan beragam aktivitas menyenangkan seperti menari (Sekolah Tari) atau berolahraga (Sekolah Olahraga).

- Bermain dengan bersosialisasi.
Bergabung dan membaur dengan orang lain adalah cara terbaik mendapat informasi dan belajar secara cepat. Dengan berkumpul, kita bisa menyerap berbagai informasi terbaru secara cepat dan mudah memahaminya. Dan biasanya, informasi yang didapat dengan cara ini, akan lebih lama terekam dalam ingatan.

- Bermain dengan Kesendirian.
Ada sebagian orang yang gemar melakukan segala sesuatunya, termasuk belajar dengan menyepi. Untuk mereka yang seperti ini, biasanya suka tempat yang tenang dan ruang yang terjaga privasinya. Jika Anda termasuk yang seperti ini, maka memiliki kamar pribadi akan sangat membantu Anda bisa belajar secara mandiri.

Sumber: Tempo Interaktif

Senin, Oktober 13, 2008

KRISIS EKONOMI AMERIKA SERIKAT, MENGAPA?

Telah kita ketahui saat ini Amerika Serikat sedang berada di ambang kehancuran financial sebagai imbas dari krisis ekonomi. Trauma akan krisis ekonomi di tahun 1929 yang sering disebut Great Depression kembali menghantui. Pada saat itu dampak krisis itu menasional bagi rakyat Amerika Serikat, seperti kesulitan keuangan karena lapangan pekerjaan sedikit hingga kelaparan.

Seperti mengulang kejadian Great Depression, dimana saat ini banyak saham-saham yang menjadi maskot Wall Street berguguran. Apalagi perusahaan sekelas Lehman brothers dan Washington Mutual menyatakan kebangkrutan. Belum lagi raksasa Asuransi AIG, sahamnya turun hingga 50 persen.

Efek dari krisis ekonomi dan finansial di USA telah merambat ke negara-negara di Asia dan Eropa. Banyak negara yang memberikan suntikan dana kepada lembaga keuangan supaya tidak tergerus arus krisis Ekonomi yang berasal dari Amerika Serikat.

Mengapa Krisis Ekonomi melanda Amerika Serikat?

Mungkin ini menjadi pertanyaan bagi sebagian besar orang, mengapa negara super power dan terkenal kuat finansialnya bisa mengalami krisis moneter atau ekonomi. Dan kemungkinan berada di ambang kebangkrutan yang akan menyengsarakan rakyatnya dan sebagian besar negara di dunia.

Ada sebuah penjelasan dari Bpk Dahlan Iskan, pada Jawa Pos tanggal 28 september 2008 yang isinya hampir sehalaman penuh. Saya berusaha untuk meringkas penjelasan tersebut untuk mendapatkan analisis beliau tentang mengapa krisis ekonomi bisa melanda negara sekelas Amerika Serikat. Berikut rangkumannya.

Sebuah perusahaan yang go public dituntut untuk meningkatkan laba hingga 20 persen tiap tahunnya. Tentang bagaimana caranya, CEO dan direktur yang akan mengaturnya. Pemilik perusahaan atau pemegang saham tidak mau tau yang penting harga saham naik dan laba terus meningkat.

Mengapa harga saham harus selalu naik, alasannya adalah jika saham dijual maka harga saham harus lebih tinggi dari harga saham saat membeli. Dan mengapa laba harus naik? alasannya jika saham tidak dijual maka setiap tahunnya mereka bisa mendapat pembagian laba atau deviden yang bertambah banyak.

Sehingga CEO selalu mencari cara untuk melakukan 2 hal di atas tadi. Alasannya agar tetap dapat mempertahankan jabatan dan gaji dan bonus yang selalu meningkat. CEO perusahaan besar di AS bisa 100 kali gaji Presiden Bush. Sehingga antara pemegang saham dan CEO menemukan sumbu temu untuk mendapatkan 2 hal di atas.

Berbagai cara dilakukan hingga melibatkan pelaku politik, banyak kebijakan yang memungkinkan perubahaan aturan dan undang-undang untuk memungkinkan segala cara para CEO tersebut. Bagi pelaku politik keuntungannya adalah mendapatkan dana kampanye dan dukungan.

Dengan cara ini ekonomi AS berkembang pesat, semua orang mampu membeli kebutuhan hidup. Sehingga AS memerlukan banyak barang. Jika tidak bisa dibuat di dalam negeri maka pesan dari negara lain. Maka tak heran China memiliki cadangan devisa terbesar yaitu 2 triliun USD karena memasok banyak barang ke AS.

Sudah 60 tahun AS membesarkan perusahaan seperti itu, yang merupakan bagian dari ekonomi kapitalis sehingga AS menjadi penguasa dunia. Tapi itu belum cukup, segala hal harus yang terbaik, terkomputerisasi, bonus yang sudah besar harus dibuat lebih besar lagi. Disinilah ketamakan AS terlihat.

Ketika semua orang sudah membeli rumah, seharusnya tidak ada lagi perusahaan penjual rumah bukan. Namun kenyataannya perusahaan harus meningkatkan penjualan untuk mendapatkan pertumbuhan laba. Maka dicarilah jalan agar rumah terjual lebih banyak. Jika orang sudah memiliki rumah maka diciptakan agar kucing dan anjing juga memiliki rumah. Termasuk mobil.

Namun ketika kucing dan anjing sudah memiliki rumah, siapa lagi yang harus membeli? Maka di tahun 1980, Pemerintah AS mengeluarkan keputusan ‘Deregulasi Kontrol Moneter’, intinya dalam kredit rumah, perusahaan real estate diperbolehkan menggunakan variable bunga. Artinya boleh mengenakan bunga tambahan dari bunga yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Hal ini merupakan peluang besar bagi perusahaan real estate, broker, asuransi dan keuangan.

History Krisis Mortgage di AS

Tahun 1925, AS memiliki UU Mortgage Tentang KPR, yaitu setiap orang yang memenuhi syarat berhak mengajukan dan mendapatkan kredit rumah. Jika penghasilan setahun 100 juta maka ia berhak mengambil kredit mortgage 250 juta. Karena cicilan jangka panjang maka terasa ringan.

Tahun 1980, Keluar kebijakan untuk menaikan bunga. bisnis perumahan ada peluang, bank bisa mendapatkan bunga tambahan dan broker dan bisnis terkait bisa berusaha kembali.

Namun karena semua sudah punya rumah, maka Tahun 1986 pemerintah AS menetapkan reformasi pajak. Salah satu isinya, pembeli rumah diberi keringanan pajak. Bagi warga di negara maju, keringanan pajak akan mendapat sambutan luar biasa karena nilai pajak yang tinggi.

Tahun 1990, dengan fasilitas pajak bisnis rumah meningkat hingga 12 tahun ke depannya. Dari mortgage 150milyar USD dalam setahun menjadi 2 kali lipat di tahun-tahun berikutnya.

Tahun 2004, mortgage mencapai 700 milyar USD per tahun. Gairah bisnis rumah yang terus meningkat ini membuat para pelaku bisnis menghalalkan segala cara. Mulai dari iklan yang jor-joran, keluarnya lembaga investment bank, hingga melunaknya persyaratan KPR. Dalam pikiran pengembang, jika orang tidak bisa membayar kredit atau kredit macet, toh rumah masih bisa dijual karena perhitungannya tiap tahun harga rumah meningkat. Jadi mereka masih untung ketika terjadi kredit macet.

Namun ternyata dalam jangka kurang dari 10 tahun, banyak kredit Macet. Banyak orang menjual rumah, harga menjadi turun sehingga nilai jaminan rumah tidak cocok lagi dengan nilai pinjaman. Satu per satu lembaga investment banking bergururan seperti efek domino.

Berapa juta rumah yang termasuk mortgage? tidak ada data namun dari nilai uangnya sekitar 5 triliun USD. Jadi kalo George Bush meminta bantuan dana 700 milyar USD itu baru sebagian kecil. Kongres kawatir apakah harus menambah 700 milyar USD lagi jika yang pertama tidak berhasil.

Penutup artikel krisis ekonomi di Amerika Serikat

Kabar terakhir menyebutkan Kongres AS kemungkinan besar menyetujui rencana bailout ini. Walau masih belum terlihat dampaknya, namun mudah-mudahan dunia tidak terpuruk dalam krisis ekonomi berkepanjangan.

Penting bagi pemerintah Indonesia untuk memberikan informasi sebanyak mungkin untuk mencegah terjadinya rush besar-besaran terhadap bank-bank di Indonesia. Tentunya Krisis Ekonomi yang terjadi tahun 1997 tidak ingin kita ulangi lagi bukan.

Update : rencana bailout ditolak oleh kongres AS. namun setelah melakukan pendekatan dan revisi draft bailout, senat as menyetujui bailout tersebut. kemudian DPR AS pun menyetujui dengan ditandatanganinya UU Bailout oleh presiden Bush.

sumber :www.jualanbuku.com

Jumat, Oktober 10, 2008

This Economy Does Not Compute

Published: New York Times, October 1, 2008



A FEW weeks ago, it seemed the financial crisis wouldn’t spin completely out of control. The government knew what it was doing — at least the economic experts were saying so — and the Treasury had taken a stand against saving failing firms, letting Lehman Brothers file for bankruptcy. But since then we’ve had the rescue of the insurance giant A.I.G., the arranged sale of failing banks and we’ll soon see, in one form or another, the biggest taxpayer bailout of Wall Street in history. It seems clear that no one really knows what is coming next. Why?



Well, part of the reason is that economists still try to understand markets by using ideas from traditional economics, especially so-called equilibrium theory. This theory views markets as reflecting a balance of forces, and says that market values change only in response to new information — the sudden revelation of problems about a company, for example, or a real change in the housing supply. Markets are otherwise supposed to have no real internal dynamics of their own. Too bad for the theory, things don’t seem to work that way.



Nearly two decades ago, a classic economic study found that of the 50 largest single-day price movements since World War II, most happened on days when there was no significant news, and that news in general seemed to account for only about a third of the overall variance in stock returns. A recent study by some physicists found much the same thing — financial news lacked any clear link with the larger movements of stock values.



Certainly, markets have internal dynamics. They’re self-propelling systems driven in large part by what investors believe other investors believe; participants trade on rumors and gossip, on fears and expectations, and traders speak for good reason of the market’s optimism or pessimism. It’s these internal dynamics that make it possible for billions to evaporate from portfolios in a few short months just because people suddenly begin remembering that housing values do not always go up.



Really understanding what’s going on means going beyond equilibrium thinking and getting some insight into the underlying ecology of beliefs and expectations, perceptions and misperceptions, that drive market swings.



Surprisingly, very few economists have actually tried to do this, although that’s now changing — if slowly — through the efforts of pioneers who are building computer models able to mimic market dynamics by simulating their workings from the bottom up.



The idea is to populate virtual markets with artificially intelligent agents who trade and interact and compete with one another much like real people. These “agent based” models do not simply proclaim the truth of market equilibrium, as the standard theory complacently does, but let market behavior emerge naturally from the actions of the interacting participants, which may include individuals, banks, hedge funds and other players, even regulators. What comes out may be a quiet equilibrium, or it may be something else.



For example, an agent model being developed by the Yale economist John Geanakoplos, along with two physicists, Doyne Farmer and Stephan Thurner, looks at how the level of credit in a market can influence its overall stability.



Obviously, credit can be a good thing as it aids all kinds of creative economic activity, from building houses to starting businesses. But too much easy credit can be dangerous.



In the model, market participants, especially hedge funds, do what they do in real life — seeking profits by aiming for ever higher leverage, borrowing money to amplify the potential gains from their investments. More leverage tends to tie market actors into tight chains of financial interdependence, and the simulations show how this effect can push the market toward instability by making it more likely that trouble in one place — the failure of one investor to cover a position — will spread more easily elsewhere.



That’s not really surprising, of course. But the model also shows something that is not at all obvious. The instability doesn’t grow in the market gradually, but arrives suddenly. Beyond a certain threshold the virtual market abruptly loses its stability in a “phase transition” akin to the way ice abruptly melts into liquid water. Beyond this point, collective financial meltdown becomes effectively certain. This is the kind of possibility that equilibrium thinking cannot even entertain.



It’s important to stress that this work remains speculative. Yet it is not meant to be realistic in full detail, only to illustrate in a simple setting the kinds of things that may indeed affect real markets. It suggests that the narrative stories we tell in the aftermath of every crisis, about how it started and spread, and about who’s to blame, may lead us to miss the deeper cause entirely.



Financial crises may emerge naturally from the very makeup of markets, as competition between investment enterprises sets up a race for higher leverage, driving markets toward a precipice that we cannot recognize even as we approach it. The model offers a potential explanation of why we have another crisis narrative every few years, with only the names and details changed. And why we’re not likely to avoid future crises with a little fiddling of the regulations, but only by exerting broader control over the leverage that we allow to develop.



Another example is a model explored by the German economist Frank Westerhoff. A contentious idea in economics is that levying very small taxes on transactions in foreign exchange markets, might help to reduce market volatility. (Such volatility has proved disastrous to countries dependent on foreign investment, as huge volumes of outside investment can flow out almost overnight.) A tax of 0.1 percent of the transaction volume, for example, would deter rapid-fire speculation, while preserving currency exchange linked more directly to productive economic purposes.



Economists have argued over this idea for decades, the debate usually driven by ideology. In contrast, Professor Westerhoff and colleagues have used agent models to build realistic markets on which they impose taxes of various kinds to see what happens.



So far they’ve found tentative evidence that a transaction tax may stabilize currency markets, but also that the outcome has a surprising sensitivity to seemingly small details of market mechanics — on precisely how, for example, the market matches buyers and sellers. The model is helping to bring some solid evidence to a debate of extreme importance.



A third example is a model developed by Charles Macal and colleagues at Argonne National Laboratory in Illinois and aimed at providing a realistic simulation of the interacting entities in that state’s electricity market, as well as the electrical power grid. They were hired by Illinois several years ago to use the model in helping the state plan electricity deregulation, and the model simulations were instrumental in exposing several loopholes in early market designs that companies could have exploited to manipulate prices.



Similar models of deregulated electricity markets are being developed by a handful of researchers around the world, who see them as the only way of reckoning intelligently with the design of extremely complex deregulated electricity markets, where faith in the reliability of equilibrium reasoning has already led to several disasters, in California, notoriously, and more recently in Texas.



Sadly, the academic economics profession remains reluctant to embrace this new computational approach (and stubbornly wedded to the traditional equilibrium picture). This seems decidedly peculiar given that every other branch of science from physics to molecular biology has embraced computational modeling as an invaluable tool for gaining insight into complex systems of many interacting parts, where the links between causes and effect can be tortuously convoluted.



Something of the attitude of economic traditionalists spilled out a number of years ago at a conference where economists and physicists met to discuss new approaches to economics. As one physicist who was there tells me, a prominent economist objected that the use of computational models amounted to “cheating” or “peeping behind the curtain,” and that respectable economics, by contrast, had to be pursued through the proof of infallible mathematical theorems.



If we’re really going to avoid crises, we’re going to need something more imaginative, starting with a more open-minded attitude to how science can help us understand how markets really work. Done properly, computer simulation represents a kind of “telescope for the mind,” multiplying human powers of analysis and insight just as a telescope does our powers of vision. With simulations, we can discover relationships that the unaided human mind, or even the human mind aided with the best mathematical analysis, would never grasp.



Better market models alone will not prevent crises, but they may give regulators better ways for assessing market dynamics, and more important, techniques for detecting early signs of trouble. Economic tradition, of all things, shouldn’t be allowed to inhibit economic progress.

Mark Buchanan, a theoretical physicist, is the author, most recently, of “The Social Atom: Why the Rich Get Richer, Cheaters Get Caught and Your Neighbor Usually Looks Like You.”

Rabu, Agustus 06, 2008

Dilema Pinjaman Luar Negeri

Dian Ediana Rae dan Sari Nadia Z Rizal

MASALAH pinjaman luar negeri Indonesia dianggap oleh banyak pihak telah sampai pada titik yang mengkhawatirkan. Hal ini terlihat dari munculnya kembali berbagai komentar mengenai masalah pinjaman luar negeri dalam berbagai kesempatan. Tidak ketinggalan, masalah ini pun menjadi topik yang cukup ramai dibicarakan sebagai tema kampanye dalam pesta demokrasi yang sedang berlangsung dewasa ini. Topik pembicaraan pinjaman luar negeri ini biasanya selalu mengarah pada dilema perlu tidaknya berutang untuk menutupi kesenjangan pembiayaan.

MENGINGAT peranan pinjaman luar negeri masih besar bagi pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia, maka yang lebih penting sebenarnya adalah mengetahui permasalahan yang terjadi dalam pelaksanaan pinjaman luar negeri Indonesia. Selain itu, mencari cara untuk mengatasi permasalahan tersebut serta menentukan langkah ke depan dalam pengelolaan pinjaman luar negeri Indonesia.

Kekhawatiran banyak pihak terhadap kondisi pinjaman luar negeri pemerintah maupun pinjaman swasta cukup beralasan. Angka statistik pinjaman luar negeri Indonesia, baik pinjaman pemerintah maupun swasta, memang masih menunjukkan tingginya kewajiban Indonesia dalam membayar kembali pokok dan bunga pinjaman luar negeri.

Beberapa indikator yang lazim digunakan dalam mengukur beban utang, seperti debt service ratio (DSR/rasio cicilan dan pokok utang terhadap ekspor), debt to export ratio (rasio utang terhadap ekspor), dan debt to GDP ratio (rasio utang terhadap produk domestik bruto), telah menunjukkan adanya perbaikan pada masa pascakrisis ini.

Bahkan, untuk tahun 2003, khusus untuk debt to export ratio dan debt to GDP ratio telah berada di bawah atau paling tidak masih dalam batas warning indicator yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.

Posisi pinjaman luar negeri

Bank Dunia menetapkan bahwa suatu negara dikategorikan sebagai negara pengutang berat (severly indebted country) jika negara yang bersangkutan memiliki debt to GDP ratio di atas 80 persen dan debt to export ratio lebih besar dari 220 persen.

Meskipun demikian, berbicara mengenai indikator, hal yang penting untuk diperhatikan adalah bahwa warning indicator tersebut pada dasarnya bukan merupakan standar absolut dan kurang pas apabila dilihat dari sisi besaran nominalnya saja. Sebagai contoh, pada tahun 1997 debt to export ratio dan debt to GDP ratio masing-masing sebesar 207,3 persen dan 62,2 persen. Apabila dilihat dari rasio tersebut, Indonesia bukanlah tergolong severly indebted country.

Akan tetapi, kedua indikator tersebut, bersamaan dengan kriteria lainnya-misalnya Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita-menyebabkan Indonesia masih termasuk dalam negara pendapatan menengah pengutang berat (severly indebted middle-income country).

Di samping itu, Pemerintah Indonesia sendiri telah menetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2003 bahwa jumlah kumulatif pinjaman pemerintah pusat dan daerah dibatasi tidak melebihi 60 persen dari PDB.

Dengan demikian, sebenarnya tidak ada indikator yang standar dalam hal ini. Yang lebih penting adalah memahami implikasi dari rasio tersebut ketimbang melihatnya dari nilai nominalnya saja.

Perkembangan rasio utang

Rasio utang terhadap PDB dapat dilihat sebagai kriteria untuk mengecek kesehatan keuangan suatu negara, di mana rasio di atas 50 persen menunjukkan bahwa pinjaman luar negeri Indonesia telah membebani lebih dari 50 persen pendapatan nasional.

Beberapa studi bahkan berpendapat, kontribusi utang terhadap pertumbuhan ekonomi akan menjadi negatif apabila rasio utang terhadap PDB telah melampaui 50 persen. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila negara-negara berkembang banyak yang memakai standar rasio utang terhadap PDB di atas 60 persen sebagai lampu kuning.

Pemerintah Indonesia juga memiliki motivasi dan komitmen yang kuat untuk membawa rasio utang terhadap PDB tersebut menjadi di bawah 50 persen pada akhir 2006, mengingat institusi-institusi Indonesia sebagai negara berkembang belum sekuat negara maju.

Pertumbuhan ekonomi

Sebenarnya pinjaman luar negeri Indonesia memang sudah memperlihatkan tanda-tanda yang sangat mengkhawatirkan.

Hal tersebut tercermin dari posisi pinjaman yang besar dan cenderung meningkat sampai dengan tahun 1998 serta besarnya indikator beban pinjaman yang bahkan telah melampaui batas warning indicator internasional.

Ditambah lagi adanya fenomena pergeseran struktur pinjaman luar negeri Indonesia yang ditandai dengan meningkatnya pinjaman luar negeri pemerintah yang bersifat komersial, baik di pasar internasional maupun domestik, serta utang swasta secara signifikan.

Pergeseran peranan pinjaman luar negeri pun telah terjadi, dari semula yang bersifat sebagai pelengkap dan bersifat sementara menjadi peranan sebagai sumber utama dalam pembiayaan pembangunan.

Fenomena pergeseran struktur dan peranan pinjaman luar negeri tersebut berakibat pada tingginya tingkat akumulasi stok utang saat ini dan semakin beratnya beban cicilan pokok dan bunga (debt service) yang dipikul oleh masyarakat Indonesia.

Sebagai akibatnya, banyak pihak berpikir bahwa Pemerintah Indonesia sebaiknya tidak perlu menambah utang baru dan bahkan dari sisi ekstrem berpendapat, kita tidak perlu berutang karena utang hanya menambah beban dan dapat menghambat pertumbuhan ekonomi.

Akan tetapi, benarkah utang hanya merupakan penghambat bagi pertumbuhan ekonomi? Secara teori, sebagaimana suatu perusahaan yang baru berjalan, utang pada tingkat yang wajar sangat dibutuhkan bagi negara berkembang karena mempunyai dampak yang positif terhadap investasi dan pertumbuhan ekonominya.

Lalu, mengapa tingkat akumulasi utang yang tinggi dapat menghambat pertumbuhan ekonomi suatu negara? Penjelasan mengenai hal ini dapat didasarkan pada beberapa teori yang berkembang, misalnya laffer curve dan debt overhang theories.

Pada intinya, debt overhang theories menggambarkan bahwa semakin besar akumulasi utang suatu negara, maka akan semakin menurunkan kemampuan membayar kembali utang tersebut. Sementara itu, laffer curve menggambarkan efek akumulasi utang terhadap pertumbuhan PDB. Menurut teori ini, utang memang diperlukan pada tingkat yang wajar dan penambahan utang akan memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi sampai pada suatu titik atau limit tertentu.

Pada kondisi inilah utang merupakan kebutuhan normal setiap negara. Namun, pada saat stok utang telah melebihi limit tersebut, penambahan utang mulai membawa dampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi.

Apabila dilihat dari fenomena utang luar negeri Indonesia, dapat diilustrasikan bahwa pola yang terjadi di Indonesia pada dasarnya telah mengikuti kedua teori tersebut. Dampak positif penambahan utang terhadap pertumbuhan ekonomi terjadi di Indonesia, yaitu pada masa pemerintahan Orde Baru.

Masalah pendapatan per kapita yang rendah dan lemahnya modal dalam negeri, walaupun telah ada upaya memobilisasi tabungan masyarakat, perbaikan struktur perpajakan dan kebijakan menarik investasi, ternyata masih belum mampu mengatasi masalah kebutuhan modal yang semakin besar.

Pada masa ini Pemerintah Indonesia memutuskan bahwa pinjaman luar negeri diperlukan sesuai dengan kebutuhan pembangunan dan terutama berperan sebagai pelengkap dalam pembiayaan pembangunan, sebagaimana yang diamanatkan dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN).

Akan tetapi, dengan semakin bertambahnya akumulasi utang, pertumbuhan PDB dan investasi mulai menurun. Dalam kasus Indonesia, pola bertambahnya akumulasi utang dimulai sejak maraknya semangat liberalisasi dan deregulasi sekitar tahun 1988 dan peniadaan platform utang sebagai pelengkap dalam GBHN. Artinya, utang sejak saat ini bukan lagi dipandang hanya sebagai pelengkap, tetapi malahan sebagai sumber utama.

Ditambah lagi, meningkatnya jumlah utang tersebut tidak diiringi oleh kebijakan utang yang hati-hati (prudent borrowing policy), khususnya pada utang swasta. Dengan demikian, utang bukan mendorong investasi dan pertumbuhan PDB, tetapi malah pada gilirannya menyebabkan kondisi krisis utang di Indonesia.

Pada saat itulah baru disadari bahwa beban pinjaman luar negeri Indonesia telah sedemikian besarnya dan besarnya beban pinjaman tersebut merupakan salah satu faktor utama yang memicu terjadinya krisis ekonomi di Indonesia serta terhambatnya perekonomian untuk keluar dari krisis tersebut.

Pada masa krisis ini pulalah bermunculan komentar dari berbagai pihak yang berkepentingan yang mempermasalahkan perlu tidaknya pinjaman luar negeri Indonesia. Namun, apakah saat ini kita sudah dalam kondisi di atas "limit tertentu" sehingga tidak perlu lagi memperoleh pinjaman luar negeri?

Fungsi pengelolaan utang

Pertanyaan yang lebih penting dikemukakan adalah bagaimana menetapkan limit itu sendiri serta apa yang harus dilakukan apabila kita sudah berada di atas limit. Penetapan limit sebenarnya merupakan bagian yang tak terlepas dari manajemen pinjaman luar negeri secara keseluruhan.

Mengelola pinjaman luar negeri membutuhkan suatu landasan yang kuat untuk mengupayakan agar kebutuhan pembiayaan pemerintah dan kewajiban pembayarannya berada pada biaya yang seminimal mungkin dalam jangka panjang dan menengah, serta dengan mempertimbangkan tingkat risiko dalam batas toleransi pemerintah.

Sehubungan dengan itu diperlukan kerangka kelembagaan manajemen utang dalam pengelolaan utang luar negeri, khususnya pinjaman luar negeri pemerintah, yang mengintegrasikan fungsi-fungsi front, middle, dan back office secara efisien dan berpedoman pada prinsip-prinsip utang yang hati-hati. Dalam pengelolaan tersebut, selain memosisikan fungsi front office dan back office secara benar, fungsi middle office perlu didirikan secara terpisah dari front office.

Fungsi middle office dalam hal ini adalah melakukan kegiatan pengawasan, manajemen risiko, mengevaluasi berbagai isu yang terkait dengan pinjaman luar negeri, serta menentukan utang yang baik.

Untuk membuat suatu struktur utang yang baik perlu dikembangkan kriteria atau portofolio patokan (benchmark portfolio), antara lain penentuan besarnya jumlah pinjaman optimal dari pinjaman luar negeri pemerintah, komposisi mata uang pinjaman yang dapat meminimumkan risiko eksternal, terutama risiko nilai tukar dan suku bunga, serta patokan dalam penentuan durasi dan struktur jatuh tempo pinjaman yang diinginkan.

Dengan mengacu pada patokan (benchmark) tersebut, diharapkan dapat memberikan dasar untuk menjawab masih perlu atau tidaknya pemerintah melakukan pinjaman luar negeri sehingga kita bisa menyikapi permasalahan pinjaman luar negeri secara proporsional dan pada esensinya.

Dengan adanya patokan tersebut, maka kebutuhan pinjaman luar negeri untuk menutupi kesenjangan pembiayaan tidak semata-mata hanya berdasarkan perhitungan kekurangan pendapatan negara dalam menutupi seluruh pengeluaran nasional, namun juga harus mempertimbangkan risiko-risiko yang melekat pada pinjaman itu sendiri.

Efektivitas pinjaman

Dengan jumlah pinjaman dan kewajiban pembayaran pokok serta bunga yang demikian besar, tampaknya perlu ditumbuhkan dan ditingkatkan kesadaran bersama mengenai efektivitas dan efisiensi pinjaman yang dilakukan oleh pemerintah.

Efektivitas dan efisiensi pinjaman tersebut harus diperhatikan dalam setiap tahap pelaksanaan pinjaman luar negeri. Dalam konteks pinjaman Consultative Group on Indonesia (CGI), permasalahan utama yang terjadi adalah lemahnya daya serap pinjaman (slow and low disbursement).

Berbagai instansi pemerintah yang terkait dengan pinjaman CGI ini menyadari bahwa lemahnya daya serap antara lain disebabkan oleh kurangnya dana pendamping dari pinjaman luar negeri, kurangnya alokasi dana pembebasan tanah, keterlambatan dan pengadaan dalam proses tender, serta masalah backlog dalam mekanisme penarikan pinjaman.

Sementara itu, pencairan bantuan program sangat bergantung pada pemenuhan persyaratan yang telah ditetapkan dalam matriks kebijakan. Hal lain yang penting untuk diperhatikan dalam konteks pinjaman luar negeri ini adalah masalah pengawasan dalam realisasi proyek/program yang dibiayai oleh pinjaman luar negeri.

Beberapa pengamat menduga telah terjadi kebocoran dalam realisasi program dan proyek yang dibiayai oleh pinjaman luar negeri dengan jumlah yang cukup substansial. Oleh karena itu, kebutuhan akan mekanisme dan format pengawasan yang efektif dan lebih memadai menjadi sangat mendesak untuk mengatasi persoalan tersebut.

Pada dasarnya, pemerintah telah memiliki sistem pengawasan terhadap proyek-proyek yang dibiayai oleh pinjaman luar negeri, baik yang bersifat pasca-audit maupun pada saat proyek/program sedang berjalan.

Meskipun demikian, efektivitas sistem dan mekanisme yang telah ada tersebut masih perlu lebih ditingkatkan agar hasil evaluasi yang telah diperoleh akan lebih dirasakan manfaatnya dalam memberikan umpan balik (feed back) terhadap perbaikan perencanaan, penyiapan, dan pelaksanaan proyek-proyek pinjaman luar negeri.

Penyelesaian pinjaman

Permasalahan lain yang sangat krusial adalah tingginya beban cicilan dan bunga utang dalam permasalahan pinjaman luar negeri. Untuk itu diperlukan langkah penyelesaian pinjaman luar negeri Indonesia secara cepat dan fundamental.

Sejauh ini penyelesaian yang sudah dilakukan oleh pemerintah meliputi penjadwalan kembali utang melalui Paris Club I, II, dan III serta London Club untuk pinjaman luar negeri pemerintah serta Jakarta Initiative, INDRA, Tim Penyelesaian Utang Luar Negeri Swasta, Inter-bank Dect Exchange Offer I dan II, serta Trade Maintenance Policy untuk program restrukturisasi pada pinjaman luar negeri swasta.

Meskipun demikian, upaya penjadwalan utang melalui Paris Club bagi kebanyakan pihak dipandang hanya untuk menyelesaikan masalah dalam jangka pendek karena hanya dapat mengatasi masalah arus kas (cash flow treatment) dan tidak mencakup pengurangan stok utang (stock treatment).

Jika fasilitas yang diperoleh Indonesia hanya cash flow treatment atau penjadwalan utang saja, bukan tidak mungkin pembayaran utang selama periode 2004 ke depan akan mengakibatkan tekanan yang berkelanjutan pada APBN.

Ditambah lagi dengan keluarnya pemerintah dari program Dana Moneter Internasional (IMF), kesempatan untuk menjadwal kembali kewajiban pinjaman luar negeri yang jatuh tempo melalui forum Paris Club menjadi tertutup. Oleh karena itu, alternatif solusi lain, seperti pemotongan utang (debt haircut), pertukaran utang (debt swap), dan konversi utang (debt conversion), menjadi sangat diperlukan.

Dian Ediana Rae Kepala Bagian Pinjaman Luar Negeri Bank Indonesia

Sari Nadia Z Rizal Asisten Peneliti Ekonomi, Bagian Pinjaman Luar Negeri Bank Indonesia

Format Anggaran Terpadu, Menghilangkan Tumpang Tindih

Anggito Abimanyu

MINGGU yang lalu pemerintah telah mengusulkan penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun 2005 dengan menggunakan format baru, yakni anggaran belanja terpadu (unified budget). Ini merupakan reformasi besar-besaran di bidang anggaran negara dengan tujuan agar ada penghematan belanja negara dan memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme. Selama lebih dari 32 tahun, pemerintah melaksanakan sistem anggaran yang dikenal dengan dual budgeting, di mana anggaran belanja negara dipisahkan antara anggaran belanja rutin dan anggaran pembangunan.

PEMISAHAN anggaran rutin dan anggaran pembangunan tersebut semula dimaksudkan untuk menekankan arti pentingnya pembangunan. Namun, dalam pelaksanaannya telah menunjukkan banyak kelemahan.

Pertama, duplikasi antara belanja rutin dan belanja pembangunan karena kurang tegasnya pemisahan antara kegiatan operasional organisasi dan proyek, khususnya proyek-proyek nonfisik. Dengan demikian, kinerja sulit diukur karena alokasi dana yang ada tidak mencerminkan kondisi yang sesungguhnya.

Kedua, penggunaan dual budgeting mendorong dualisme dalam penyusunan daftar perkiraan mata anggaran keluaran (MAK) karena untuk satu jenis belanja, ada MAK yang diciptakan untuk belanja rutin dan ada MAK lain yang ditetapkan untuk belanja pembangunan.

Ketiga, analisis belanja dan biaya program sulit dilakukan karena anggaran belanja rutin tidak dibatasi pada pengeluaran untuk operasional dan belanja anggaran pembangunan tidak dibatasi pada pengeluaran untuk investasi.

Keempat, proyek yang menerima anggaran pembangunan diperlakukan sama dengan satuan kerja, yaitu sebagai entitas akuntansi walaupun proyek hanya bersifat sementara. Jika proyek sudah selesai atau dihentikan, tidak ada kesinambungan dalam pertanggungjawaban terhadap aset dan kewajiban yang dimiliki proyek tersebut.

Hal ini selain menimbulkan ketidakefisienan dalam pembiayaan kegiatan pemerintahan, juga menyebabkan ketidakjelasan keterkaitan antara output (outcome) yang dicapai dan penganggaran organisasi.

"T-Account" ke "I-Account"

Sebelum tahun 2001, prinsip Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) adalah anggaran berimbang dinamis, di mana jumlah penerimaan negara selalu sama dengan pengeluaran negara, dan jumlahnya diupayakan meningkat dari tahun ke tahun.

Sejak tahun 2001 hingga sekarang, prinsip anggaran yang digunakan adalah anggaran surplus/defisit. Sejalan dengan itu, format dan struktur APBN berubah dari T-Account ke I-Account. Format dan struktur I-Account yang berlaku saat ini terdiri atas (i) pendapatan negara dan hibah, (ii) belanja negara, dan (iii) pembiayaan.

Pendapatan negara dan hibah menampung seluruh pendapatan negara yang bersumber dari (1) penerimaan perpajakan, (2) penerimaan negara bukan pajak (PNBP), dan (3) hibah.

Adapun belanja negara menampung seluruh pengeluaran negara, yang terdiri dari (1) belanja pemerintah pusat, yang meliputi pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan, dan (2) belanja untuk daerah, yang meliputi dana perimbangan dan dana otonomi khusus dan penyeimbang/penyesuaian.

Selisih antara pendapatan negara dan hibah dengan belanja negara akan berupa surplus/defisit anggaran. Guna menutup defisit anggaran, diperlukan pembiayaan yang bersumber dari luar pendapatan negara dan hibah, yang antara lain bersumber dari (1) pembiayaan dalam negeri dan (2) pembiayaan luar negeri.

Dalam sistem dual budgeting, pengeluaran rutin dimaksudkan sebagai pengeluaran-pengeluaran pemerintah yang dialokasikan untuk membiayai kegiatan rutin pemerintahan, yang terdiri dari (i) belanja pegawai, (ii) belanja barang, (iii) pembayaran bunga utang, (iv) subsidi, dan (v) pengeluaran rutin lainnya.

Sementara itu, pengeluaran pembangunan merupakan pengeluaran negara yang dialokasikan untuk membiayai proyek-proyek pembangunan yang dibebankan pada anggaran belanja pemerintah pusat dalam rangka pelaksanaan sasaran pembangunan nasional, baik berupa sasaran fisik maupun nonfisik.

Dalam hal ini, pengeluaran pembangunan terdiri dari (i) pengeluaran pembangunan dalam bentuk pembiayaan rupiah, yang pendanaannya bersumber dari dalam negeri dan dari luar negeri dalam bentuk pinjaman program, dan (ii) pengeluaran pembangunan dalam bentuk pembiayaan proyek, yang pendanaannya bersumber dari luar negeri dalam bentuk pinjaman proyek.

Selanjutnya, sebagaimana diamanatkan Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2003, sistem penganggaran mengacu pada praktik-praktik yang berlaku secara internasional.

Menurut Government Financial Statistics (GFS) Manual 2001, sistem penganggaran belanja negara secara implisit menggunakan sistem unified budget, di mana tidak ada pemisahan antara pengeluaran rutin dan pembangunan sehingga klasifikasi menurut ekonomi akan berbeda dari klasifikasi sebelumnya.

Dalam hal ini, belanja negara menurut klasifikasi ekonomi dikelompokkan ke dalam (1) kompensasi untuk pegawai; (2) penggunaan barang dan jasa; (3) kompensasi dari modal tetap berkaitan dengan biaya produksi yang dilaksanakan sendiri oleh unit organisasi pemerintah; (4) bunga utang; (5) subsidi.

Kemudian, (6) hibah; (7) tunjangan sosial (social benefits); dan (8) pengeluaran-pengeluaran lain dalam rangka transfer dalam bentuk uang atau barang, dan pembelian barang dan jasa dari pihak ketiga untuk dikirim kepada unit lainnya.

Dalam melaksanakan perubahan format dan struktur belanja negara telah dilakukan dengan melakukan penyesuaian-penyesuaian, namun tetap mengacu GFS Manual 2001 dan UU No 17/2003. Beberapa catatan penting berkaitan dengan perubahan dan penyesuaian format dan struktur belanja negara yang baru, antara lain:

Pertama, dalam format dan struktur I-Account yang baru, belanja negara tetap dipisahkan antara belanja pemerintah pusat dan belanja untuk daerah karena pos belanja untuk daerah yang berlaku selama ini tidak dapat diklasifikasikan ke dalam salah satu pos belanja negara sebagaimana diatur dalam UU No 17/2003.

Kedua, semua pengeluaran negara yang sifatnya bantuan/ subsidi dalam format dan struktur baru diklasifikasikan sebagai subsidi. Ketiga, semua pengeluaran negara yang selama ini "mengandung" nama lain- lain yang tersebar di hampir semua pos belanja negara, dalam format dan struktur baru diklasifikasikan sebagai belanja lain-lain.

Tumpang tindih belanja

Dengan berbagai perubahan dan penyesuaian tersebut, belanja negara menurut klasifikasi ekonomi (jenis belanja) terdiri dari (i) belanja pegawai, (ii) belanja barang, (iii) belanja modal, (iv) pembayaran bunga utang, (v) subsidi, (vi) hibah, (vii) bantuan sosial, dan (viii) belanja lain-lain.

Adapun belanja untuk daerah, sebagaimana yang berlaku selama ini, terdiri dari (i) dana perimbangan dan (ii) dana otonomi khusus dan penyesuaian.

Dengan adanya perubahan format dan struktur belanja negara menurut jenis belanja, secara otomatis tidak ada lagi pemisahan antara belanja rutin dan belanja pembangunan (unified budget).

Beberapa pengertian dasar terhadap komponen-komponen penting dalam belanja tersebut, antara lain, belanja pegawai menampung seluruh pengeluaran negara yang digunakan untuk membayar gaji pegawai. Termasuk di dalamnya berbagai tunjangan yang menjadi haknya, dan membayar honorarium, lembur, vakansi, tunjangan khusus dan belanja pegawai transito, serta membayar pensiun dan asuransi kesehatan (kontribusi sosial).

Dalam klasifikasi tersebut termasuk pula belanja gaji/ upah proyek yang selama ini diklasifikasikan sebagai pengeluaran pembangunan. Dengan format ini, akan terlihat pos yang tumpang tindih antara belanja pegawai yang diklasifikasikan sebagai rutin dan pembangunan. Di sinilah nantinya efisiensi akan bisa diraih.

Demikian juga dengan belanja barang yang seharusnya digunakan untuk membiayai kegiatan operasional pemerintahan guna pengadaan barang dan jasa, dan biaya pemeliharaan aset negara. Demikian juga sebaliknya sering diklasifikasikan sebagai pengeluaran pembangunan.

Belanja modal menampung seluruh pengeluaran negara yang dialokasikan untuk pembelian barang-barang kebutuhan investasi (dalam bentuk aset tetap dan aset lainnya).

Pos belanja modal dirinci atas (i) belanja modal aset tetap/fisik dan (ii) belanja modal aset lainnya/nonfisik. Dalam praktiknya selama ini, belanja lainnya nonfisik secara mayoritas terdiri dari belanja pegawai, bunga dan perjalanan yang tidak terkait langsung dengan investasi untuk pembangunan.

Subsidi menampung seluruh pengeluaran negara yang dialokasikan untuk membayar beban subsidi atas komoditas vital dan strategis tertentu yang menguasai hajat hidup orang banyak, dalam rangka menjaga stabilitas harga agar dapat terjangkau oleh sebagian besar golongan masyarakat.

Subsidi tersebut dialokasikan melalui perusahaan negara dan perusahaan swasta. Sementara itu, selama ini ada jenis subsidi yang sebetulnya tidak ada unsur subsidinya, maka belanja tersebut akan dikelompokkan sebagai bantuan sosial.

Bantuan sosial menampung seluruh pengeluaran negara yang dialokasikan sebagai transfer uang/barang yang diberikan kepada penduduk, guna melindungi dari kemungkinan terjadinya risiko sosial, misalnya transfer untuk pembayaran dana kompensasi sosial.

Sementara itu, belanja untuk daerah menampung seluruh pengeluaran pemerintah pusat yang dialokasikan ke daerah, yang pemanfaatannya diserahkan sepenuhnya kepada daerah.

Konversi belanja negara menurut klasifikasi ekonomi dari format lama ke format baru disajikan dalam tabel 1 konversi belanja negara di bawah ini.

Pemberantasan KKN

Ke depan, sejalan dengan amanat UU No 17/2003 tentang Keuangan Negara, akan pula diterapkan secara penuh anggaran berbasis kinerja di sektor publik agar penggunaan anggaran tersebut bisa dinilai kemanfaatan dan kegunaannya bagi masyarakat.

Jelas ada keinginan yang kuat dari pemerintah bahwa mulai tahun depan pengelompokan atas anggaran belanja rutin dan anggaran belanja pembangunan tidak boleh dipergunakan lagi karena telah menimbulkan peluang terjadinya duplikasi, penumpukan, dan penyimpangan anggaran.

Sejalan dengan rencana jangka menengah sebagai penunjang penerapan perubahan format baru dan anggaran berbasis kinerja, ada beberapa langkah penting yang akan ditempuh, yakni pertama penyempurnaan format anggaran, kedua penyelesaian standar akuntansi pemerintah dan penyusunan neraca dan kekayaan negara.

Jelas, pemerintah saat ini sedang giat-giatnya melakukan reformasi yang signifikan di bidang keuangan negara dalam upaya memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), dan dimulai dari rumah tangganya sendiri. Upaya ini akan menjadi kado bagi pemerintah yang akan datang yang sangat berharga untuk menciptakan pemerintah yang bersih dan transparan.

Anggito Abimanyu Kepala Badan Analisa Fiskal, Departemen Keuangan RI/ Dosen Fakultas Ekonomi UGM

Senin, April 28, 2008

Striptease Dancer

Strip-tease dancer sells the body beauty, dance at balcony or at grand stand consoles and satisfy eye ” sinner” . usually served in bighttime, in the shining evening, escorted music that boom out escort body dance tempts, sometimes complete dress but minimum, or even without a lef of thread even also at the body.

Strip-tease dancer, obvious bot merely woman as tempter, but there also man. depending which communities that gather, sometimes only mans with girl dancer, and guy dancer with communities girls, or guy dancer with class communities gay and on the contrary. passionate once. . . .

Strip-tease dancer with club special, here you are more passionate! ! ! ! !

Dancer that display body beauty and woman good section or man very tempt, make blood swishes to hold back lust, even less at luxurious club. falvour aroma increase bright, increase lost in as in nirvana. . . . . . .

While turned that beauty there rotten aroma at disperse although losts to because eye, nose and especially heart has been closed oelh fragrant sin. . . . .

Now, that also that being showed by” strip-tease dancer” : member dpr that drunk. With take shelter at the opposite of law, they try to close all rot with luxurious cars bersliweran, with winsome strong costume, and have office at Senayan. while some of they are very rotten, say to defend people, defend oppressed ones, defend nation child, lift nation level. . . . . .

Again, rotten! ! ! !

I don’t know dirty game even less that they (strip-tease dancers) will show for us. corruption nest that protected UU, KPK opposed, even less people certain it cheated twice raw. . . . .

Let us watch strip-tease dancer Senayan, rotten in the end be seen also! ! !

Jumat, April 25, 2008

Ujian Nasional : Persoalan Dilematis

Hari-hari ini jagad pendidikan sedang terfokus pada ujian nasional untuk tingkat SMA/SMK. Mulai tingkat mentri hingga guru dan orang tua, ditambah dengan tim pemantau independen terlibat baik langsung maupun tidak langsung dalam melaksanakan dan mengawasi Ujian Nasional. Gonjang-ganjing dan perdebatan perlunya Ujian Nasional, sampai hari ini pun belum tuntas. Teapi, pemerintah sebagai pemegang kebijakan memandang masih sangat perlu dilaksnakan Ujian Nasional sebagai sebuah standar mutu pendidikan di Indonesia.

Kita tidak perlu lagi mempermasalahkannya. Sebab hari ini Ujian Nasional telah berlangsung aman secara umum. Persoalan yang mengemuka saat pelaksanaan Ujian Nasional saat ini bukan lagi penting atau tidaknya UN, melainkan bagaimana peserta didik, guru, orang tua dan pemerintah menyikapinya dalam prosesnya.

Saat menjelang dan proses pelaksanaan UN,biasanya anak didik bahkan mungkin orangtuanya berlomba mencari bocoran jawaban. Sebuah fenomena yang memprihatinkan. Maka tak heran bagi orang tua siswa yang berkantong tebal, akan berusaha membeli bocoran tak perduli berapapun harganya asalkan anaknya lulus. Sementara fenomena yang lebih parah adalah oknum guru, kepala sekolah yang terlibat langsung dalam proses pendidikan memberikan contoh yang buruk. Ada beberapa sekolah yang dengan segala upayanya memberikan jawaban langsung, dengan berbagai cara pula ; memberikan jawaban kepada murid di wc, memanggil anak dengan alasan tertentulah, atau menginstruksikan agar anak datang lebih awal untuk diberikan "pengarahan". Dipihak pengambil kebijakan bisa jadi memberikan konversi nilai, akan mempermalukan jika dalam tahun ini misalnya ratusan atau ribuan anak tidak lulus UN.

Lingkaran setan yang menggenaskan bukan. Kemana bersembunyinya nurani kalau demikian.
Tahun lalu di Medan, guru yang melaporkan terjadinya kebocoran malah diintimidasi. Kejujuran memang terkadang pahit resikonya. Hanya orang-orang yang berjiwa kerdillah yang takut menikmati kepahitan rasa kejujuran. Maka, wajarlah kalau fenomena yang mengenaskan seperti di atas berbuah pada mental bangsa kita yang ambruk, korupsi kejahatan kemanusiaan, manipulasi kekuasaan karena jantungnya bangsa ini : Pendidikan sudah terkontaminasi oleh prinsip yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan instan!!!!

Akhirnya, bukan berarti dari sekian ratus juta penduduk Indonesia semua seperti itu. Saya yakin masih ada anak bangsa ini yang menjaga nuraninya, tidak menjual hatinya untuk kepentingan sesaat : lulus UN dengan segala cara. Masih banyak yang elegan meski tidak sedikit yang berlaku curang.

Senin, Maret 24, 2008

Kecerdasan Qur'ani

Mungkinkah setiap orang dapat menumbuhkan kecerdasan Qur’an (Qur’anic Quotient)? Jawabannya : pasti MUNGKIN la yaaa!

quran5xj1eu4.jpg

Lalu apa sih kecerdasan qur’ani itu? Bagi setiap orang yang memproklamirkan dirinya sebagai seorang mu’min, haruslah sadar sepenuh hati, bahwa inilah kecerdasan yang menyeluruh, terpadu, terintegrasi secara sempurna. Karenanya Allah memberikan “titipan” ini kepada kita melalui seorang manusia yang ummi, yakni Muhammad bin Abdullah, Rasulullah SAW. So, apa dong defenisinya? Anda bisa menyimpulkannya sendiri setelah merenungi tujuh prinsip di bawah ini.

Prinsip pertama, mengawali segala aktifitas dengan basmallah.

“Sesungguhnya hasil yang dicapai seseorang tergantung pada niatnya” (HR : Imam Bukhari).

Prinsip kedua, menerima diri apa adanya

Salah satu ciri Ulil Albab dan Qur’anic Quotient adalah beriman sesuai dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya. Maka dalam melihat diri harus dengan kaca mata iman. Kita harus bersyukur terhadap nikmat yang Allah berikan, yaitu apa saja yang sesuai dengan yang kita inginkan. Sebaliknya, kita harus bersabar atas setiap musibah yang menimpa, yaitu apa saja yang tidak sesuai dengan yang kita inginkan.

Prinsip ketiga, Memberikan yang terbaik.

Jika kita diberikan oleh seseorang, maka balaslah dengan sesuatu yang nilainya lebih baik dan tinggi dari yang diberikan oleh orang tersebut. Namun perlu diingat, jangan pernah merasa puas karena menganggap telah memberikan yang terbaik.

Prinsip keempat, lihatlah impian

Barang siapa akhirat menjadi impiannya Allah akan menjadikan kekayaan dan rasa cukup dalam hatinya, mengumpulkan yang tercerai berai darinya dan dunia mendatanginya dalam keadaan hina. dan barang siapa dunia menjadi impiannya, Allah akan menjadikan kefakiran dihadapannya, menceraiberaikan urusannya dan dunia tidak datang kepadanya, kecuali yang telah disempitkan keapadanya.

Prinsip kelima, temukan potensi dan peluang diri

“Mu’min yang kuat, lebih baik dan lebih Allah cintai dari pada mu’min yang lemah. Walaupun keduanya tetap memiliki potensi.Seriuslah terhadap sesuatu yang bermanfaat bagimu dan minta bantuan kepada Allah, serta jangan bersikap lemah.

Prinsip keenam, Rumuskan cara meraih impian

Iman itu bukan sekedar angan-angan kosong, bukan buah bibir, tapi tertancap dalam hati dan dibuktikan dengan tindakan (HR : Ad-Dailami) Rasulullah dengan sungguh-sungguh menegaskan kepada kita, bahwa sebuah impian harus ada tindakan nyata untuk meraihnya.

Prinsip ketujuh, Belajarlah dari pengalaman

Bukanlah orang yang cerdas, kecuali ia pernah tergelincir tetapi cukup sekali pada lubang tersebut jangan sampai dua kali bahkan lebih, bodoh namanya. Bukan pula orang yang bijak, kecuali berpengalaman. Begitulah pesan Nabi Muhammad SAW (HR : Imam Tirmidzi) Ini adalah isyarat dari nabi bahwa kita harus berani mencoba meskipun bisa jadi pada akhirnya itu sebuah kesalahan dalam mengarungi kehidupan ini.

(disarikan secara bebas dari Qur’anic Quotien: menggali dan melejitkan diri melalui al-qur’an: Udo Yamin Efendi Majdi)

Rabu, Maret 19, 2008

eBiZ Game

Hari ini anak-anak altilery ngikutin eBiz Game yang diadakan disekolah oleh PPM Management School. Asyik mungkin bargi anak-anak, karena kali pertama ngikutin lomba inteaktif disekolah dan kelihatannya sih enjoy. Mas Kemal dari PPM yang mandu lombanya. Buatku in sharing yang bagus, jadi bisa tambah informasi.

Mas Kemal dari PPM dan Mr. Sriyono dari SMA 74

Lumayan pesertanya banyak, dibagi dua gelombang. Quiznya sih bagaimana mengelola pendanaan lewat investasi yang tepat. Belajar mengelola perusahaan lewat game seperti ini kan belum pernah, jadi sangat bermanfaat buat anak didik.

Peserta lomba e-Biz Game, mix : IPS dan IPA kelas XI

Nah, setelah berjalan kurang lebih 1 jam setengah, pemenangnya adalah NAY, singkatan dari Nurul Azizi dan Yasawi dengan nilai 60 yang mendapatkan keuntungan 1,2 milyar. Selamat dan semoga bisa bersaing dengan 25 sekolah lainnya.


NAY, The Winner......

Selasa, Maret 04, 2008

Dicari : Sekolah Islam Murah Berkualitas!

Sebagai bangsa, kita patut bersyukur hingga detik ini diberi anugrah kedamaian. dibanding dengan kawasan Timur Tengah, apalagi belahan Afrika. Kedamaian tersebut mestinya sangat kondusif bagi bangsa ini untuk mengembangkan nilai-nilai luhur secara leluasa. Nilai-nilai luhur dimaksud akan sangat mungkin mendukung kemajuan dan kemajemukan Indonesia yang diharapkan.

Kalau kita bisa kilas balik sejenak, kita akan melihat dengan penuh kekaguman. Bahwa Indonesia pernah menjadi salah satu bangsa yang dihormati karena keluasan dan kekayaan khazanah keilmuannya. Tidak sedikit dari anak bangsa ini yang diakui keilmuan dan kepribadiannya, Imam Nawawi Al bantani, KH. Wahid Hasyim, KH. Ahmad Dahlan, Mohammad Hatta, Soekarno, Tan Malaka, Buya Hamka, Syafrudin Prawiranegara, Mohammad Husni Thamrin, dan masih banyak lagi. Hampir bisa dipastikan peran mereka dalam perjalanan bangsa ini. Pendidikan yang mereka peroleh bisa jadi tidak hanya dari bangku sekolah, namun juga tidak menafikan arti pentingnya latar belakang akademis. Mereka yang sebagian besar muslim, tentunya sangat membanggakan bagi kita, komunitas muslim Indonesia. Tidak diragukan lagi peran ummat islam dalam perjalanan sejarah Indonesia hingga saat ini.

Kini, Indonesia jauh tertinggal dengan negara Jiran, Malaysia dan Singapore. Apa yang salah dengan bangsa ini? Pendidikan kita semakin menjadi komoditas bisnis, apalagi dengan telah dibukanya kebebasan bagi negara lain untuk membuka instutsi pendidikannya di Indonesia. Bahwa pendidikan membutuhkan biaya, kita tidak menampik hal tersebut. Tetapi pendidikan menjadi komoditas bisnis, inilah masalahnya. hal ini juga yang sedang melanda pendidikan di dunia islam. Menjamurnya sekolah-sekolah dengan embel-embel terpadu, makin membuat biaya pendidikan membengkak. Seolah dengan tambahan kata terpadau sekolah tersebut sudah menjamin kualitas siswanya. Padahal? Sebuah fenomena yang memiriskan hati. Sebagian besar bangsa ini muslim, sebagian besar bangsa ini yang jelata adalah muslim yang secara ekonomi tidak akan mampu membiayai pendidikan pada sekolah-sekolah berlabel terpadu atau sekolah model, sekolah unggulan atau apalah namanya. Karena kita sama-sama tahu, sekolah-sekolah tersebut jor-joran mengiklankan diri dengan fasilitas serba baik, metode pengajaran serba bagus, lulusan serba unggul, pengajar serba berkualitas dan profesional, kurikulum hasil kawin dengan sekolah-sekolah luar negeri yang diakui secara internasional. Sebagai akibatnya, sekoalh-sekolah tersebut menuntut biaya yang "memadai" untuk operasionalnya. Dengan kata lain, sekolah berbiaya tinggi dan hanya orang-orang berkantong tebal yang bisa menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah tersebut.

Memang tidak semua sekolah Islam berkualitas berbiaya tinggi, namun mungkin bisa dihitung dengan sepuluh jari. Smart Eklensia, milik Dompet Dhuafa di Parung, SMP dan SMK Utama milik PLN di Gandul Cinere sebagian kecil sekolah cuma-cuma berkualitas dan terpercaya. Sebagian besar sekolah Islam berlabel terpadu, berkurikulum internasional atau berlisensi serba mahal. Di samping itu, dua sekolah gratis di atas diperuntukkan bagi siswa dhuafa tapi pandai. Bagaimana dengan anak-anak biasa saja? Sekolah pemerintah ? Dengan kondisi saat ini, rasanya tidak mungkin membina siswa yang biasa-biasa saja, gratis sekalipun. Perbandingan guru dengan siswa yang jomplang, tidak sebanding. Satu kelas ditangani satu guru dengan jumlah sekitar 40-an siswa. Gratis? perlu dipertanyakan juga kalau SD dan SMP milik pemerintah gratis, faktanya buku dan biaya tambahan lainnya tetap dipungut.

Lantas dimanakah sekolah Islam murah berkualitas? Adakah kesempatan untuk anak-anak muslim yang secara ekonomis orangtuanya termasuk golongan tidak mampu, anaknya biasa-biasa saja untuk menimati sekolah murah bahkan gratis dan berkualitas?

Selasa, Februari 26, 2008

Berguru ke Padang

Hari Jum'at 22 Februari 2008, keluarga besar SMA 74 Jakarta bertolak ke kota Padang. Kunjungan pertama kali ke kota ini bertujuan untuk menimba ilmu, sharing dan bertukar pengalaman dengan keluarga besar SMA 1 Padang.

Saat tiba di kota Padang, semua keheranan karena mampirnya bukan ke SMA 1 Padang melainkan ke kantor RRI Padang yang di sambut langsung oleh Direktur RRI-nya, Pak Mulyadi beserta staff dan keluarga. Wah....kejutan juga. Ternyata Pak Mulyadi adalah alumni SMA 1 Padang, dan kebetulan juga kakak ipar dari ibu Fahmidar yang juga alumni SMA 1 Padang.

Direktur RRI, Pak Mulyadi

Para Eksekutif Muda sedang khusyu mendengarkan sambutan
Direktur RRI Padang

SMA 1 Padang merupakan salah satu SMA favorit di kota Padang. Berdiri sekitar tahun 1917, didirikan oleh pemerintah Belanda. Lulusannya pada tahun 2008 banyak yang diterima di PTN, antara lain ITB sebanyak 74 orang, UNDIP 1 orang, UNPAD 34 orang, NTU Singapore 3 orang, UI 13 orang, dan masih banyak lagi.

Tampak depan SMA 1 Padang, Sumatra Barat

Siswa-siswa SMA 1 Padang menyambut guru-guru SMA 74 Jakarta

Ruang Bimbingan Penyuluhan Siswa


Wow... cantiknya si upik




Suasana Sharing di serbaguna room

Hal yang paling menarik bagi saya adalah, seluruh siswinya berkerudung meskipun bukan muslimah. Saat ditanya mengapa demikian, Kepala sekolah SMA 1 Padang menjelaskan bahwa untuk seluruh kota padang, siswinya diwajibkan berjilbab kecuali non muslim dan sekolah non muslim. Akan tetapi mengingat berjilbab banyak sekali manfaatnya, untuk siswa non muslim di SMA 1 Padang mengikuti aturan tersebut. Jadi selama hari efektif, seluruh guru dan siswanya berjilbab. Luar biasa kan......!!!

Kamis, Februari 21, 2008

Aset Yang Terabaikan


Pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. (St. Paul)


Li Pai adalah seorang bocah yang suka bermalas-malasan dalam belajar. Ia lebih senang bermain-main daripada menghabiskan waktunya untuk membaca atau menulis. Suatu hari, saat gurunya tidak masuk, Li Pai keluar dari kelas dan pergi bermain-main di tepi sungai. Ketika hendak menangkap ikan, ia melihat seorang nenek sedang memusatkan perhatiannya pada sebatang besi yang diasahnya di atas sebuah batu. Selama setengah hari, Li Pai memperhatikan nenek tersebut bekerja namun si nenek tetap saja mengasah batang besi tersebut. Li Pai menjadi sangat bingung. Penuh rasa penasaran, Li Pai pun bertanya, “Nenek sedang apa?”

Nenek yang sudah tua itu pun menjawab, “Saya sedang mengasah sebuah jarum untuk menyulam.” “Mengasah jarum? Batang besi sedemikian besarnya, mau diasah sampai kapan?” kata Li Pai penuh rasa heran. “Benar, nak!” ujar nenek sambil mengangkat kepala dan memandang Li Pai, “walaupun batang besi ini besar, namun jika terus diasah akan menjadi semakin kecil. Asalkan saya tidak berhenti mengasah, batang besi ini pasti akan menjadi jarum.” Mendengar itu, terbukalah mata hati Li Pai. Ia menjadi sadar betapa seringnya ia membuang-buang waktu untuk hal-hal yang tidak berguna. Saat itu juga ia mengambil komitmen untuk lebih tekun dalam belajar. Puluhan tahun kemudian ia pun dikenal sebagai seorang penyair besar.

Cerita tentang Li Pai ini seakan hendak “menyindir” begitu banyak umat manusia di muka bumi ini. Bagaimana tidak, terlalu sering kita menghabis-habiskan waktu dan energi kita untuk hal-hal yang tidak produktif. Mulai dari sekadar tidur berlama-lama, melamun hingga berjalan-jalan tanpa tujuan yang pasti. Sebagian orang barangkali menyadari kesia-siaan tersebut namun tampaknya sebagian besar sama sekali tidak menyadarinya.

Salah satu aset berharga demi meraih kesuksesan hidup adalah waktu yang diberikan Tuhan kepada manusia. Selama kita masih hidup, kita selalu punya peluang untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Saya rasa, Tuhan sangat adil karena semua manusia diberikan waktu 24 jam sehari. Bukankah tidak ada manusia yang diberikan waktu 23,5 jam sehari atau 25 jam sehari? Semua diberikan waktu yang sama namun bagaimana kita memanfaatkannya sepenuhnya tergantung kita.

Dalam berbagai seminar dan training saya selalu menegaskan bahwa salah satu hal mencolok yang membedakan orang sukses dan orang gagal adalah bagaimana mereka mengisi waktu mereka. Ketika orang-orang gagal sedang duduk sambil ongkang-ongkang kaki, orang-orang sukses telah memulai menabur dan bekerja keras. Itulah sebabnya ketika orang-orang sukses menuai, orang-orang gagal hanya bisa gigit jari, bahkan terkadang merasa iri.

Ketika memberikan training di sebuah toko buku besar di Jakarta, saya bertanya kepada para staf berapa banyak waktu yang mereka luangkan setiap hari untuk membaca. Anehnya, sebagian besar menjawab sama sekali tidak pernah. Alasannya sangat sederhana: tidak punya waktu. Kemudian saya balik bertanya, setiap hari berapa jam yang mereka habiskan di atas kendaraan umum untuk pulang pergi kerja. Umumnya menjawab satu hingga dua jam. “Nah, mengapa satu sampai dua jam itu tidak diluangkan untuk membaca?” tanya saya. Jika kita tahu mana yang penting dan merupakan prioritas maka kita lebih terdorong untuk melakukannya secara serius. Jika tidak, kita cenderung diombang-ambingkan oleh kehidupan dan membiarkan waktu berlalu begitu saja. www.pembelajar.com

TUJUH KIAT SUKSES

Orang sukses adalah orang yang terus mencoba, meskipun telah mengalami banyak kegagalan. Ia memandang kehidupan sebagai peluang untuk mencapai kesuksesan. Itulah kira-kira kesimpulan dari penelitian selama 40 tahun terhadap orang-orang sukses. Yang dicoba ditemukan dari mereka adalah bagaimana dan mengapa mereka tergerak untuk menjadi teratas di bidang masing-masing, dari olah raga, pendidikan, hingga pasar modal.

Apa sebenarnya yang mereka ketahui dan lakukan untuk menjadi sukses? Berikut ada tujuh hal yang dilakukan mereka dalam meraih sukses:

1. Orang sukses mau mengambil risiko. Mereka berupaya untuk mencapai target, melakukan penghematan, membangun relasi dengan banyak orang, dan gesit mencoba sesuatu yang baru guna mengikuti perkembangan zaman. David C. McClelland, seorang guru besar yang mendalami perjalanan orang-orang sukses serta telah melakukan perjalanan ke banyak negara dan melatih pengusaha kecil, menyatakan cara menjadi pengusaha kecil sukses adalah dengan menjadi pengambil risiko moderat; yang mau terus mengambil risiko untuk meraih sukses.

2. Orang sukses percaya diri dan merasakan bahwa mereka berbuat sesuatu untuk dunia. Mereka memandang sebuah dunia yang besar dan ingin memainkan peranan penting di dalamnya. Mereka tetap bekerja sesuai keterampilan mereka, sambil tetap menyadari bahwa keterampilan inti memberi nilai kepada keterampilan lainnya. Mereka juga sadar, karya terbaik akan menghasilkan kompensasi bagi mereka.

3. Orang sukses menikmati apa yang sedang mereka lakukan. Mereka mampu melihat pekerjaan sebagai kesenangan; mereka memilih bekerja di mana mereka dapat unggul. Orang sukses menyukai tantangan; mereka menikmati pencapaian puncak permainan mereka, apakah di pekerjaan, lapangan tenis atau lapangan golf.

4. Orang sukses adalah pelajar seumur hidup. Mereka menyadari, pendidikan tak pernah berakhir tapi dimulai di setiap tingkatan kehidupan dan terus berlanjut hingga akhir kehidupan. Pendidikan tidak terbatas di ruang kelas; artinya mencoba ide baru, membaca buku, surat kabar, majalah, dan menggunakan Internet merupakan bentuk pendidikan pula. Karena itu, tetaplah mengalir sesuai perubahan ketertarikan dan kemampuan Anda, dan nikmati perubahan. Ini akan membantu Anda tumbuh dan merasakan lebih percaya diri.

5. Orang sukses berpandangan positif terhadap apa yang dapat mereka kerjakan, dan ini meluas pada hal-hal lain. Mereka percaya gelas itu setengah penuh dan bukan setengah kosong. Mereka menanamkan semangat pada diri sendiri dan dapat membayangkan diri bagaimana mereka berhasil menyelesaikan suatu tugas sulit atau mencapai penghargaan tertinggi. Orang sukses berbuat bagaikan pelatih bagi orang lain, dengan menyuguhkan pesan-pesan positif dalam kehidupan sehari-hari. Mereka senang melihat orang lain membuat tonggak sejarah dalam kehidupan mereka.

6. Orang sukses punya banyak cara untuk memotivasi diri sendiri sehingga dapat terus berkarya lebih baik dari yang lain. Ada yang dengan cara melakukan beberapa pekerjaan setiap hari pada bidang berbeda. Seorang pria setengah baya memotivasi dirinya sendiri dengan mencoba mendapatkan lebih banyak uang daripada kakaknya. Seorang wanita berusia 29 tahun menjadi perawat top untuk menunjukkan kepada bekas gurunya bahwa dia memiliki keterampilan dan kecerdasan memadai untuk mencapai profesi itu.

7. Orang sukses menyelesaikan tugas tidak dengan setengah-setengah, dan mereka menggunakan cara kreatif dalam meraih sukses. Meski mungkin membutuhkan waktu lebih lama, mereka akhirnya melampaui garis finis. Mereka manfaatkan waktu dengan baik dalam mensinergikan kemampuan fisik dan mental untuk mencapai sukses.

Rasanya, Anda bisa juga mencoba. Siapa tahu Anda pun mampu mengikuti jejak mereka. (WWM/William J. Bond/Gde) www.indomedia.com

waktu itu pedang